Guna melindungi perbatasan dari penyelundupan dan perdagangan ilegal, Kantor Bea dan Cukai Aceh menyelenggarakan patroli maritim.

TRIBUNNEWS.COM-Aceh merupakan provinsi paling barat Indonesia, karena wilayah maritimnya masih diduduki oleh kapal-kapal dagang antar negara sehingga rawan terjadi kegiatan penyelundupan dan perdagangan ilegal, terutama kegiatan maritim.

Provinsi Aceh secara geografis berdekatan dengan Kepulauan Nicobar Andaman India, berbatasan dengan Samudera Hindia di sebelah barat; Selat Malaka di sebelah timur; dan di sebelah utara terdapat Pulau Rondo, pulau terluar Aceh.

Salah satu tugas bea cukai adalah mengawasi perbatasan dan melindungi masyarakat Indonesia dari penyelundupan dan perdagangan ilegal. Pelayaran terintegrasi Sriwijaya Nets gelombang kedua pada patroli tahap kedua tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Pabean Aceh (Kanwil).

Bekerja sama dengan pangkalan Customs Operations Facilities (PSO), Tim Patroli Maritim Bea Cukai Tanjung Balai Karimun di Aceh menggunakan kapal patroli BC 60001. Pada hari Sabtu dan Minggu, 30-31 Mei 2020, Bea Cukai Daerah Aceh dan kapal patroli bersama (ABK) PSO BC TBK. Wilayah patroli laut meliputi pantai timur dari Aceh Besar sampai Pulo Rondo, dan secara administratif masuk dalam wilayah Pemerintah Kota Sabang — Adat Aceh dan Kepala Daerah Adat Safuadi Awak kapal patroli BC 60001 menyampaikan pesan untuk terus berinovasi dan meningkatkan kreativitas dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan ke bea cukai dan pemeliharaan bertanggung jawab untuk melindungi penyelundupan Indonesia dan antusiasme perdagangan barang ilegal ke Indonesia. Selain itu, Safuadi juga melakukan komunikasi informasi dengan memperkuat pengawasan.

“Kita perlu terus meningkatkan menjadi lebih baik. Ini adalah pengembangan dan perbaikan produk, layanan atau upaya pengawasan secara terus menerus dengan memberikan solusi terbaik untuk masalah yang muncul.” Oleh karena itu, kami tidak akan fokus pada masalah yang sama, Diskusikan kasus yang sama dan cerita yang sama agar tidak terulang lagi tanpa memperbaiki cara kita menyelesaikan dan menanggapi masalah atau tantangan “, kata Safuadi. (*)

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *