Luhart: Indonesia bisa mulai memproduksi baterai lithium pada 2023

Reporter Tribunnews.com Reynas Abdila melaporkan-Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah terus mendorong industri baterai lithium untuk mendorong hilirisasi mineral.

“Saat ini kami akan membangun smelter tembaga di Teluk Weda, Halmahera. Kami juga bisa memproduksi asam sulfat yang merupakan bagian penting dari baterai lithium. Oleh karena itu, target kami adalah memproduksi baterai lithium pada tahun 2023,” koordinasinya. Kata Menteri Luhut pada rangkaian webinar “Battery Day”, Kamis (26/11/2020). -Dia mengatakan pengembangan produk samping nikel masih fokus pada stainless steel — Namun, pemerintah secara bertahap terus memenuhi semua kebutuhan agar industri Indonesia bisa bergerak ke arah produksi baterai lithium, transfer teknologi, edukasi, dan banyak aspek lain yang bisa kita kembangkan di hilir. , jelasnya. -Lihat juga: Luhut: Tesla tertarik investasi baterai lithium di Indonesia

“Pipa proyek HPAL Indonesia saat ini memiliki setidaknya empat pabrik HPAL untuk mobil. Persiapan gram. Pertama adalah PT Halmahera Persada Lygend di Halmahera, kemudian PT QMB, PT Huayue dan PT Vale Indonesia di Sulawesi. Sudah berkali-kali dimulai, jadi kami sangat serius terutama untuk pengembangan ini, ā€¯imbuhnya.

Baca juga: Pemakaian baterai lithium di PJU dinilai lebih ramah lingkungan dan relatif aman

Harita Nickel Direktur Tonny Hasudungan Gultom menambahkan, pemerintah mendukung industri hilir nikel, terutama baterai lithium.

Di Sulawesi, saat ini banyak smelter yang memproduksi besi nikel.

“Selama ini pemerintah Sangat mendukung industri ini. “Salah satunya keputusan pelarangan ekspor bijih nikel mulai 2014. Ini membuktikan. Pemerintah sangat serius mendukung industri hilir ini,” kata Tonny.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *